Selasa, 18 Desember 2012

Kisah Abu Nawas Menghindari Hujan

Menghindari Hujan

Tak diragukan lagi, sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka ia akan mendapat hukuman.
Baginda mengetahui bahwa Abu Nawas sangat takut akan beruang.
Maka dari itu Baginda mengajaknya berburu di hutan untuk mengkap beruang, dan Abu Nawas tak bisa menolaknya.

Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung,
Baginda memenggil Abu Nawas.

"Tahukah mengapa engkau aku panggil?" tanya Baginda.
"Ampun tuanku, hamba belum tahu." kata Abu Nawas.

"Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Hutan dari sini masih jauh, kau aku beri kuda yang lamban, sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat.
Nanti pada waktu santap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku.
Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering.
Sekarang kita berpencar." jelas Baginda.

Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak.
Abu Nawas kini tahu bahwa Baginda akan menjebaknya.
Ia harus mencari akal agar bajunya tidak basah saat hujan turun.
Dan ketika sedang berfikir, tiba-tiba hujan pun turun.

Begitu hujan turun, maka Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan terdekat.
Akan tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup.

Ketika santap siang, Baginda segera menuju tempat peristirahatan, dan ketika itu juga Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban.
Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah, padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat perlindungan terdekat.

Nah pada hari yang kedua, Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi oleh Baginda.
Kini Baginda dan para pengawalnya mengendarai kuda-kuda yang lamban.
Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin.
Baginda dan pengwalnya langsung basah kuyup karena kuda yang ditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang.

Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya.
Abu Nawas menunggu Baginda Raja.
Selang beberapa saat, Baginda dan para pengawal akhirnya datang juga dengan pakaian yang basah kuyup.

Baginda tak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan Abu Nawas.
Rahasia apakah yang telah dipakai oleh Abu Nawas.
"Terus terang bagaimana caranya menghindari hujan wahai Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Mudah Tuanku yang mulia," jawab Abu Nawas dengan tersenyum.

"Sedangkan aku dengan kuda yang cepat saya tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini," kata Baginda.
"Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan.
Tetapi begitu hujan turun, maka hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya kemudian saya mendudukinya.
Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti," jelas Abu Nawas.

Ahaaa rupanya dengan diam-diam Baginda Raja mengakui lagi kecerdikan Abu Nawas.
Lo kenapa tidak pakai jas hujan saja Baginda ini ya haha.

Kisah Malaikat Penjaga Laut

Kisah Malaikat Penjaga Laut

Sebuah Kisah Tentang Malaikat penjaga laut ini di publish karena aku menganggapnya kisah ini dapat memberikan tambahan keimanan akan adanya malaikat.
Sebagai bahan renungan, selain Kisah Abu Nawas ada baiknya ada renungan lain.

Malaikat Allah SWT jumlahnya sangat banyak.
Selain 10 malaikat yang sudah diketahui, ternyata masih banyak malaikat lainnya yang memiliki tugas masing-masing.
Salah satunya adalah malaikat penjaga laut.

Di dalam kitab Irsyadul Ibad dijelaskan bahwa ada seorang Nasrani Paderi yang bertobat dari agamanya (Nasrani).
Orang Nasrani ini memilih masuk Islam.
Keislamannya diawali ketika ia diilhami tentang kebenaran ajaran Islam, sehingga membuatnya bimbang dan ingin berpindah menganut agama Islam.

Karena begitu kuat dorongannya untuk memeluk Islam, akhirnya nasrani ini berangkat ke Makkah dan melakukan Thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali.
Setelah Thawaf berakhir, ia merasakan guncangan batin yang hebat.

Ia seolah merasakan kenikmatan beribadah daripada sebelumnya.
Karena kondisi puncak keimanan itulah akhirnya ia memutuskan melakukan pengembaraan mencari tempat yang sunyi.

Bertemu Malaikat Laut.
Setiap hari ia berjalan tanpa arah dan tujuan hingga ketika ia sampai di suatu tempat di pinggir laut, ia menghentikan langkahnya.
Saat itu waktu sudah gelap gulita.

Tiba-tiba terdengarlah gemuruh suara seperti suara hewan.
Suasana hatinya bercampur aduk antara takut, was-was dari ancaman binatang yang bisa tiap saat menerkamnya.

Karena itu orang Nasrani ini memutuskan untuk memanjat pohon yang besar.
Akan tetapi di atas pohon, ia tidak bisa tidur dan terlebih lagi pada saat terdengar suara binatang buas yang bersahutan.
Ketika suara itu semakin jelas, ia melihat di permukaan laut ada sebuah makhluk aneh yang sangat besar.
Dia adalah malaikat penjaga laut.

Wujud makhluk itu berkepala seperti burung kasuari tapi berwajah seperti manusia.
Badannya seperti unta yang memiliki punuk, ekornya seperti ikan.
Orang Nasrani itu menganggapnya aneh karena hanya muncul di permukaan laut saja.

Ia kemudian berteriak.
"Hai siapa itu?" begitu teriaknya.
"Wahai manusia, mengapa engkau tidak mengucapkan salam kepadaku?" tegur makhluk itu.

Akhirnya si Nasrani pun mengikuti apa yang diperintahkannya.
Saat ia turun dari pohon, ia terkejut melihat lebih dekat bentuk asli makhluk itu dan ia berniat untuk lari karena takut.
Tapi ia ditegur oleh malaikat itu.

Malaikat Laut Salah Satu Tentara Nabi Khidir a.s.
"Wahai manusia, mengapa engkau lari dariku?
Jika engkau lari niscaya engkau akan binasa," ucapa malaikat laut itu.

Maka berhentilah Nasrani tadi dan kemudian makhluk tersebut mulai memperkenalkan dirinya bahkan ia adalah seorang malaikat yang Allah SWT ciptakan untuk berdiam di atas permukaan laut.
Ia merupakan salah satu bala tentara Allah SWT.
Setiap hari ia selalu melantunkan tasbih.

Malaikat itu juga mengaku sebagai salah satu malaikat bala tentara Nabi Khidir a.s di Lautan.
Orang Nasrani itupercaya, terlebih lagi setelah mengalami peristiwa tersebut, keyakinannya bertambah kuat terhadap Islam.
Ia meyakini bahwa apayang dipegang selama ini (agama Nasrani) adalah keliru, dan Islam lah yang benar menurutnya.

Nabi Khidir a.s berkata,
"Barang siapa yang melantunkan tasbih malaikat tersebut, maka pahalanya seperti pahala makhluk tersebut berdzikir dari awal hingga akhir hayatnya."

Cara Setan Menghilangkan Iman

Cara Setan Menghilangkan Iman

Dalam Kitab Daqoiqul Akhbar dijelaskan bahwa setan akan menghilangkan iman seorang muslim saat sakaratul maut.
Setan datang dengan membawa air yang disebutnya dapat menghilangkan dahaga.
Namun bila air itu diminum, kala itu juga seorang muslim akan hilang imannya.
Nauzubillah Min Zalik..

Dalam sebuah hadits diceritakan,
"Sesungguhnya setan yang dilaknati Allah mendatangi dan duduk di atas kepala seorang hamba (yang sedang menghadapi sakaratul maut) dan berkata kepadanya, "Tinggalkanlah agama ini dan katakanlah Tuhan ada 2 agar engkau selamat dari kepayahan."


Ketika itu ada kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar, oleh karena itu tetaplah dirimu agar selalu menangis dan tadharru' (merendahkan diri) kepada Allah dan bangun pada tengah malam dengan memperbanyak ruku' dan sujud agar selamat dari siksa Allah SWT."

Pada suatu hari Imam Abu Hanifah pernah ditanya oleh seorang muslim.
"Apakah dosa yang paling besar dapat menghilangkan iman?" tanya muslim itu.
"Meninggalkan syukur atas iman, meninggalkan takut mati dan berbuat zalim terhadap sesama.
Maka orang yang dalam hatinya ada 3 sifat tersebut, biasanya ia keluar dari dunia sebagai orang kafir, kecuali orang yang mendapat keberuntungan," jawab Imam Abu Hanifah.

Rayuan Setan
Di dalam kitab Daqoiqul Akhbar itu disebutkan bahwa hal yang paling dirasakan semua orang adalah ketika saat sakaratul maut.
Rasa haus dan panas yang dialami saat jelang ajal menjemput itu membuat setan memainkan perannya untuk menghilangkan keimanan di hati umat Islam.

Saat itu setan datang dan membawa tempat air dari es dan menggerak-gerakkannya di depan orang yang sakaratul maut.
"Berilah aku air," kata orang mukmin yang lemah imannya.

Setan akan mengulur waktu untuk menjerumuskan orang tersebut dengan memberikan pernyataan yang bisa melenyapkan iman di hati.
"Katakanlah tidak ada yang menciptakan alam, maka engkau akan kuberi air," jawab setan itu.

Jika orang itu beruntung maka dia tidak menjawab.
Kemudian setan datang pada telapak kakinya dan menggerak-gerakkan tempat air.
"Katakanlah Rasulullah SAW pembohong maka engkau akan aku beri air," rayu setan lagi.

Jika orang itu celaka, dia akan menurutinya karena tidak sabar dalam kehausan dan dia akan keluar dari dunia sebagai orang kafir.
Namun jika orang itu beruntung, maka dia akan menolak permintaan setan dan dia memikirkan akibatnya.

Saat-saat Sakaratul Maut
Sebagaimana diceritakan Kisah Abu Zakaria Az-Zahid ketika menghadapi kematian, sahabatnya datang pada waktu dia sedang menghadapi sakaratul maut dan mengajarinya kalimat Thayyibah
"Laa ilaaha Illallaah Muhammadur Rasulullah."






Akan tetapi dia memalingkan wajahnya dan tidak mau mengucapkannya.
Maka diulangi untuk yang kedua kalinya, tapi dia tetap memalingkan mukanya dan tidak mau mengucapkannya.
Diulangi untuk ketiga kalinya dan Abu Zakaria berkata, "Aku tidak akan mengucapkannya."

Maka dia pun pingsan di depan teman-temannya.
Setelah Abu Zakaria sadar dari pingsannya yang sesaat dan merasa ringan, dia pun membuka matanya.
"Apakah engkau mengatakan sesuatu kepadaku?" tanya Abu Zakaria kepada teman-temannya.
"Ya, kami mengajarkanmu syahadat tiga kali dan engkau berpaling dua kali dan engkau berkata pada saat yang ketiga bahwa engkau tidak akan mengucapkannya."

"Astaghfirullah...Aku didatangi Iblis yang membawa tempat air dan duduk di kananku sambil merayuku, beruntung aku tidak mengikuti rayuannya shingga setan itu lari," jawab Abu Zakaria.

Tingkat keimanan seseorang sangat menentukan kala menghadapi sakaratul maut.
Detik-detik itulah saat yang menentukan apakah kita akan kuat iman atau sebaliknya kecuali orang yang beruntung.

Dari cerita, kisah di atas mari renungkan kembali tingkat keimanan kita selama ini.
Selalu berusaha untuk meningkan keimanan akan lebih baik daripada kemunduran iman.
Salam.

Kisah Abu Nawas Sahabat dan Keyakinan

Sahabat dan Keyakinan

"Abu Nawas...." kata Baginda Raja Harun Al-Rasyid.
"Daulat Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas.
"Aku akan beterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau aku panggil bukan untuk kupermainkan atau aku perangkap.
Tetapi aku benar-benar memerlukan bantuanmu." kata Baginda.

"Apakah gerangan yang bisa hamba lakukan untuk paduka?" tanya Abu Nawas.

Pertanyaan Baginda:
"Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu aku mendapat kunjungan dari negeri sahabat, kebetulan rajanya beragama Yahudi.
Raja itu adalah sahabat karibku hingga begitu berjumpa denganku, dia langsung mengucapkan salam secara Islam.
Aku tidak menduga sama sekali.

Tanpa pikir panjang aku membalas salamnya sesuai dengan ajaran agama kita yaitu kalau mendapat salam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab dengan Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu).
Tentu saja dia merasa tersinggung.
Dia menaynyakan mengapa aku tega membalas salamnya yang penuh doa keselamatan dengan jwaban yang mengandung kecelakaan.

Saat itu sungguh aku tak bisa berkata apa-apa selain diam.
Pertemuanku dengan dia selanjutnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Aku berusaha menjelaskan bahwa aku hanya melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran Islam, akan tetapi dia tidak bisa menerima penjelasanku.

Aku merasakan bahwa pandangannya terhadap Islam tidak semakin baik, tetapi sebaliknya.
Namun bila engkau mempunyai alasan lain yang bisa aku terima, kita akan tetap bersahabat, begitu kata sahabat karibku itu."

"Kalau hanya itu persoalannya, mungkin hamba bisa memberikan alasan yang dikehendaki Raja sahabat paduka itu yang mulia." kata Abu Nawas meyakinkan Baginda.

Mendengar kesanggupan Abu Nawas, Baginda amat riang dan Raja pun berulang-ulang menepuk pundak Baginda.
Wajah Baginda yang semula gundah gulana seketika itu berubah cerah.

"Cepat katakan wahai Abu Nawas, jangan biarakan aku menunggu." kata Baginda tak sabar.

Jawaban Abu Nawas:
"Baginda yang mulia...memang sepantasnyalah kalau Raja Yahudi itu menghaturkan ucapan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Baginda.
Karena ajaran Islam memang menuju keselamatan dari siksa api nerakan dan kesejahteraan menuju surga.

Bukankah Islam mengajarkan tauhid yang berarti tidak menyekutukan Allah SWT, juga termasuk tidak menganggap Allah mempunyai anak.
Nah ajaran tauhid ini tidak dimiliki oleh agama-agama lain termasuk agama yang dianut Raja Yahudi sahabat paduka itu.

Ajaran agama Yahudi menganggap Uzair adalah anak Allah.
Maha Suci Allah dengan anggapan itu dan tidak pantas Allah mempunyai anak.
Sedangkan orang Islam membalas salam dengan ucapak Wassamualaikum (kecelakaan bagi kamu) bukan berarti mendoakan agar kamu celaka.
Akan tetapi semata-mata karena ketulusan dan kejujuran Islam yang masih bersedia memperingatkan orang lain atas kecelakaan yang akan menimpa bila mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang keliru."

Seketika itu juga kegundahan Baginda Raja Harun Al-Rasyid sirna.
Kali ini saking gembiranya, Baginda menawarkan agar Abu Nawas memilih sendiri hadiah apa yang disukai.
Namun Abu Nawas tidak memilih apa-apa karena ia berkeyakinan bahwa tak selayaknya ia menerima upah dari ilmu agama yang ia sampaikan,

Mohon maaf untuk yang beragama lain selain Islam.
Semata hanya kisah saja yang dicuplik dari lembaran hadits Rasulullah SAW yang diulas melalui cerita agar lebih mudah dipahami.

Kisah Azab Pemabuk di Neraka

Kisah Azab Pemabuk di Neraka

Di dalam kitab Daqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan Nar dikisahkan tentang azab bagi orang yang minum arak atau pemabuk yang dimakan oleh Kalajengking.

Diceritakan bahwa kelak pada hari kiamat akan ada makhluk yang terbuat dari api neraka yang diberi nama Harisy yang berbentuk kalajengking, kepalanya berada di langit ke tujuh dan ekornya berada di bumi yang paling bawah.

Pada hari kiamat, Harisy akan memanggil malaikat Jibril.
"Apakah yang engkau kehendaki wahai Harisy?" tanya Malaikat Jibril.
"Aku menghendaki 5 Golongan, yakni:
1. Dimanakah orang-orang yang meninggalkan shalat.
2. Dimanakah orang-orang yang mencegah untuk membayar zakat.
3. Dimanakah orang-orang yang meminum arak atau pemabuk.
4. Dimanakah orang-orang yang memakan riba.
5. Dimanakah orang-orang yang membicarakan masalah dunia di dalam masjid." jelas Harisy.

MAKHLUK API.
Maka Jibril memberitahukan keberadaan orang-orang yang dimaksud Harisy.
Harisy mengumpulkan orang-orang itu dan memakannya hingga semua orang itu berada di perutnya, lalu dia mengembalikan mereka ke neraka Jahanam.

Di neraka Jahanam, pemabuk akan diberi makanan kayu Zaqqum.
Yaitu ketika mereka memakannya maka mendidihlah apa yang ada di dalam perut dan dalam otak mereka.

Kemudian keluarlah dari mulut mereka api yang menjilat-jilat dan rontoklah anggota tubuh mereka diantara telapak kakinya.
Rasulullah pernah bersabda bahwa saat-saat yang sangat menyedihkan bagi ahli neraka adalah ketika dipakaikan kepada mereka pakaian dari cairan timah dan tembaga.

Ketika pakaian itu dipakaikan kepada mereka, maka terkelupaslah kulit mereka.
Orang-orang yang celaka itu berada dalam neraka dalam keadaan buta, bisu dan tuli.

Rasulullah SAW dalam riwayat lainnya juga bersabda bahwa ketika ahli neraka meminta hujan, maka datanglang mendung yang hitam di atas mereka.
Ahli neraka sepintas senang.
Mereka berteriak bahwa akan segera turun hujan.

Prediksi mereka benar, namun yang turun bukanlah air hujan melainkan bebatuan neraka yang langsung menimpa kepala mereka.
Kemudian batu itu keluar dari bagian bawah tubuhnya.

MINUMAN NERAKA
Setelah turun hujan batu dari neraka, Allah SWT menurunkan hujan berbentuk ular yang besarnya sebesar leher unta.
Ular-ular itu akan menggigit tubuh ahli neraka.
Sekali gigit akan terasa 1000 tahun.

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ahli neraka selama 70 ribu tahun memanggil malaikat Malik, tetapi tidak mendapat jawaban dari malaikat Malik.

"Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Malaikat Malik tidak mau menjawab kepada Kami."

Kemudian Allah SWT menyuruh malaikat Malik untuk menjawab panggilan ahli neraka itu.
"Apakah yang kalian katakan wahai orang-orang yang dimurkai Allah." jawab malaikat Malik.

"Wahai Malik, berilah kami minum karena api-api telah membakar daging-daging kami, tulang-tulang kami, kulit-kulit kami, serta telah merobek-robek tulang kami dan telah memotong-motong hati kami," begitu pintanya.

Lalu Malaikat Malik memberikan kepada mereka minuman air yang mendidih.
Saat minuman dipegang, maka rontoklah jari-jari mereka.
Saat air itu telah sampai ke wajah mereka, maka berjatuhanlah mata dan pipi mereka.

Kemudian di saat air itu masuk ke perut, maka terputuslah usus-usus dan hati mereka.
Nauzubillahi min Zalik.

Itulah cuplikan kitab yang bisa kita jadikan renungan.
Semoga kita terhindar dari api neraka.
Amin.
Selamat Data Di www.irfanfr.blogspot.com Disini Ada. Request,Tips,Trick,Games,Software,Tools,Tutorial,Cheat. Jika Sudah Comment Yaaa