Selasa, 18 Desember 2012

Kisah Abu Nawas Mengelabui Petugas Perbatasan Kerajaan

Mengelabui Petugas Perbatasan Kerajaan 

Setiap orang di negeri Irak mulai dari anak-anak hingga dewasa mengenal si Abu Nawas.
Seperti kali ini, seisi desa merasa keheranan karena Abu Nawas tampak setiap minggunya melakukan perjalanan dari desanya ke desa tetangga yang sudah masuk dalam wilayah kerajaan negara lain.

Kali ini, seperti biasanya awal minggu pada suatu bulan, dini hari si Abu Nawas sudah keluar dari rumahnya yang dapat dikatakan sangat sederhana.
Di samping rumah sederhana tersebut terdapat kandang kuda yang penghuninya kerap kali berganti.

Seperti dini hari itu, Abu Nawas bersiap melakukan perjalanan menuju desa tetangganya sembari menunggang kuda.
Keesokan harinya biasanya ia akan pulang ke desanya di negeri Irak tersebut sambil membawa banyak barang.

Berdagang.

Karuan saja kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan bagi Pak Hamid, tetangganya.
Sehingga sore itu ketika Abu Nawas pulang dari perjalanan tak urung ditanyakanlah perihal perniagaannya yang membuat warga sekampung bingung.

"Hai Abu Nawas, kemanakah engkau beberapa waktu ini, kalau memang engkau memiliki perniagaan yang baik, tolonglah kau ajak kami," ungkap Pak Hamid.
"Ada saja Pak, dan kukira tak akan ada yang mau berniaga sepertiku," jawab Abu Nawas.


Bulan berganti bulan, akhirnya Abu Nawas diduga telah melakukan bisnis yang dilarang.
Bulan berikutnya kembali Abu Nawas berniat melakukan perniagaannya dan dia harus melalui pintu perbatasan.
Si Fulan, petugas penjaga pintu perbatasan memeriksa seluruh barang bawaannya.
Namun tidak ada satupun barang yang mencurigakan.
Hanya ada bekal dan beberapa keping uang.

Keesokan harinya kembali si FUlan berjumpa Abu Nawas di perbatasan, kali ini Abu Nawas membawa banyak barang yang semua lengkap dengan dokumen yang diperlukan.
Si Fulan tidak dapat membuktikan perihal dugaan bisnis terlarang Abu Nawas.
Bahkan karena seringnya perjumpaan tersebut, hubungan keduanya menjadi akrab sampai akhirnya si Fulan dipindahkan dari tempat kerjanya.

Jual Kuda.

Suatu waktu bertemulah 2 orang yang telah lama tidak jumpa di suatu kesempatan yang tidak terduga.
Si Fulan bukan lagi seorang penjaga pintu perbatasan dan dirinya sudah lama pensiun dari pekerjaan itu.

Abu Nawas pun sekarang sudah dikenal sebagai saudagar dermawan yang berhasil.
Pertemuan itu dilanjutkan dengan jamuan makan oleh Abu Nawas.
Dalam kesempatan tersebut masing-masing bercerita tentang pengalaman yang telah mereka hadapi selama lebih kurang 20 tahun tak bertemu.

"Usaha apa yang engkau lakukan di masa itu saudaraku, karena aku mengetahui kau tidak membawa cukup uang.
Tetapi ketika pulang tak hanya keperluan makan, tetapi juga barang lainnya kau bawa setelah pulang dari perniagaan yang tak sampai sehari semalam kau lakukan," tanya si Fulan.


Karena mendengar hal itu, tertawalah Abu Nawas mengingat kebiasaan masa mudanya.
"Sebenarnya sangat mudah saudaraku untuk mencari bukti dan tak perlu harus memeriksa semua barang bawaanku.
Seperti engkau ketahui bahwa aku senantiasa pergi dengan mengendarai kuda, tetapi ketika pulang aku hanya berjalan kaki dan di situlah usahaku," jawab Abu Nawas.


Mendengar penjelasan itu mengertilah si Fulan, yakni di masa itu Abu Nawas menjual kuda-kudanya di negeri tetangga dan pulangnya ia tukarkan dengan barang lainnya.

Kisah Abu Nawas Mengelabui Raja

Mengelabui Raja 

Karena di anggap terlalu mengkritik kepemimpinan Raja Harun, maka Abu Nawas ditangkap karena ia dituduh telah melakukan sesuatu yang membahayakan kerajaan sehingga harus dihukum.
Namun demikian, Abu Nawas selalu punya alasan untuk meloloskan diri dari hukuman itu.

Ia mengaku kepada pengawal kerajaan bahwa ia memiliki ilmu tinggi dan ia akan terbang.
Kabar Abu Nawas akan terbang akhirnya terdengar oleh Raja Harun.

"Mana mungkin Abu Nawas akan terbang, dia tidak punya sayap, tidak punya alat-alat khusus, apakah ia punya ilmu khusus?" kata Raja Harun kepada pengawalnya.
"Kami tidak tahu paduka, tetapi Abu Nawas sangat meyakinkan," jawab pengawal.

Hingga dibawalah Abu Nawas menghadap Sang Raja.
"Abu Nawas, betulkah kamu mau terbang?" tanya Raja.
"Ya Tuanku, memang saya mau terbang," jawab Abu Nawas.
"Kapan? dan dimana?" tanya Raja secara beruntun.
"Hari Juma'at yang akan datang ini, dan dari menara Masjid Baitul Rakhim, tak jauh dari rumah saya, jika raja mengijinkan," jawab Abu Nawas.


Akhirnya Sang Raja mengijinkan dan bahkan ia berjanji akan membebaskan Abu Nawas jika bisa terbang.
Akan tetapi jika Abu Nawas tak bisa membuktikan, maka hukumannya akan ditambah 100 lecutan rotan, daun kuping dipotong dan hukuman gantung.

Akan Terbang
Pada hari yang sudah dinantikan, Jum'at sesudah sembahyang Jum'at, lapangan sekitar masjid Baitul Rakhman sudah penuh orang.
Orang biasa, rakyat, penduduk dan penguasa setempat sudah berjubel mengambil tempat masing-masing.
Orang-orang menantikan saat yang paling genting dan mendebarkan.

Abu Nawas dengan langkah yang sangat gagah dan tak ragu, menaiki tangga menara tertinggi dan orang-orang melihat dengan mata yang tak berkedip, terpaku dan menyatu mengikuti langkah tubuh Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas sampai pada puncak tertinggi, dia melihat lurus dan terkadang ke bawah yang penuh orang.
Badan dan kedua belah tangannya merentang lurus seakan-akan benar mau terbang.
Orang-orang yang ada di bawah dengan seksama memperhatikan dan Abu Nawas terus dan berulang-ulang merentangkan tangannya dan memajukan badannya seakan-akan terbang dan bagaikan berenang perilaku dan gerak-geriknya.

Sementar orang-orang yang ada di bawah menunggu dengan jantung berdegup dengan kencang.
Akhirnya Abu Nawas menemui mereka dan mereka semua terpana, terpesona, heran dan penuh keraguan apalagi yang mau dibuat ABu Nawas ini.

"Apa semua kalian lihat tadi bagaimana saya mau terbang itu?" tanya Abu Nawas.
"Ya, kami melihat, kamu menggerakkan kedua belah tanganmu dan badanmu bergerak ke depan, tampaknya memang bergaya mau terbang," kata orang banyak.


Bebas
"Lalu apakah saya berbohong bahwa saya mau terbang pada hari Jum'at ini dan di menara tertinggi Masjid Baitul Rakhim ini?" tanya Abu Nawas.
"Ya tidak bohong, kamu betul mau terbang hari ini dan di sini.Tapi kenapa lalu kamu tidak terbang?" kata mereka.


"Yang saya katakan bahwa saya mau terbang.Lalu saya coba, lalu ternyata yang seperti kalian lihat tadi itu," kata ABu Nawas.
"Tapi ternyata kamu tidak bisa terbang," kata mereka.


"Itu soal lain, saya tidak mengatakan bahwa saya mau terbang pada hari Jum'at ini dan di sini.Itu yang saya katakan dan kalian semua tahu hal itu.
Saya katakan bahwa saya mau terbang, hanya itu bukannya terbang," kata ABu Nawas.

Orang-orang saling melihat dan mulut mereka berguman.
Tarikan nafas panjang karena Abu Nawas terlepas dari jeratan hukum.
Orang-orang juga sama membenarkan bahwa Abu Nawas memang tidak berbohong.
Dia melakukan semua yang dia pernah katakan.Tidak berbohong dan menepati janji.

Jenazah Diantar Malaikat Jibril

Jenazah Diantar Malaikat Jibril

Pada suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah SAW yakni Sa'ad bin Mu'ad meninggal dunia.
Nabi Muhammand SAW yang datang bertakziah menyuruh para sahabatnya memandikan jenazah Sa'ad.
Sedangkan Beliau sendiri hanya berdiri di dekat pintu.

Ketika Jenazah itu di kafani, kemudian dibawa dan diletakkan di tempat pembaringan, Rasulullah SAW ikut mengantarkan tanpa memakai sorban dan selendang.
Awalnya Beliau mengambil posisi di sebelah kanan jenazah, lalu Beliau pindah ke sebelah kiri sampai jenazah itu diantarkan ke kuburan.

Setelah sampai di kuburan, Rasulullah SAW turun ke liang lahatnya dan meletakkan batu bata dengan rata di atasnya.
"Duhai bebatuan, engkau temani aku.Duhai tanah yang basah, engkau temani aku, dan kau tutupi dia diantara bebatuan," Ujar Rasulullah SAW.

TANPA SURBAN
Setelah jenazah Sa'ad ditimbun dengan tanah hingga rata, Rasulullah SAW bersabda,
"Aku tidak tahu, apakah Sa'ad disiksa di kubur itu, tetapi Allah mencintai hamba yang beramal sesuai dengan yang ditetapkan oleh-Nya."

Nampaknya pernyataan Nabi Muhammad SAW itu di dengar oleh seorang perempuan tua.
Dan wanita itu adalah ibu Sa'ad.
Tanpa banyak bicara, ibu Sa'ad langsung bersimpuh di pusara anaknya.
Ia terlihat sedih akan kematian anaknya itu.
"Wahai Sa'ad, istirahatlah kamu di surga," ujarnya.

"Wahai ibu Sa'ad, janganlah kamu memaksa Tuhanmu, karena Sa'ad sekarang ini sedang ditimpa azab kubur," ujar Rasulullah SAW kepada ibu Sa'ad.
"Mengapa Wahai Rasulullah?" tanya ibu Sa'ad.
"Sesungguhnya Allah SWT kuasa atas semuanya," jawab Nabi SAW singkat.

Kemudian Rasulullah SAW dan semua sahabat pulang dari kuburan.
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, kami melihat engkau bersikap terhadap Sa'ad tidak seperti kepada yang lain, engkau mengantarkan jenazahnya Sa'ad tanpa sorban dan selendang."

"Ketahuilah, bahwa aku melakukan itu karena malaikat datang tanpa sorban dan selendang, maka aku mengikutinta," kata Rasulullah SAW.
"Engkau mengambil posisi di sebelah kanan tempat pembaringan, kemudian pindah ke sebelah kiri.
Mengapa ya Rasulullah?" tanya sahabat yang lain.

SIKSA KUBUR
"Tanganku mengikuti Jibril mengambil apa yang dia ambil," jawab Rasulullah SAW.
Setelah itu salah seorang sahabt yang satunya mengajukan pertanyaan lain.
"Engkau perintahkan kami memandikannya, dan engkau menyalatinya serta mengantarkan ke kuburnya, mengapa demikian?" tanyanya.

Mendapat pertanyaan itu, Rasulullah SAW bersabda,
"Sa'ad telah ditimpa azab kubur."
Nabi Muhammad SAW menegaskan,
"Sa'ad mendapat siksa kubur karena ketika hidup, Sa'ad berakhlak buruk (kasar) terhadap keluarganya."

Sejak pernyataan Rasulullah SAW tersebut, para sahabta lebih berhati-hati dalam bersikap terhadap orang lain, terutama terhadap keluarganya masing-masing.
Mereka tidak ingin mendapat siksa kubur seperti yang diterima Sa'ad.

Kisah Ahli Kubur Dipukul Palu

Kisah Ahli Kubur Dipukul Palu

Karena tidak mampu mencatat amal buruknya di hadapan malaikat kubur, seorang ahli kubur dipukul palu besar oleh malaikat.
Orang tersebut menyesal karena di dunia dihabiskan untuk bermaksiat.


Diriwayatkan dari Abdillah bin Salam bahwa sebelum malaikat Munkar dan Nakir masuk ke dalam kubur dan menemui ahli kubur, ada malaikat yang mendatanginya dengan wajah yang bercahaya bagaikan matahari, malaikat tersebut bernama Ruman.
Dia masuk dan menemui jenazah dan mendudukkannya.

"Tulislah amalmu dari yang terbaik sampai yang terjelek," kata malaikat RUman.
"Wahai malaikat, dengan apa aku menulis, mana pena, tinta dan tempatnya?" tanya si mayit.
"Tintanya adalah lidahmu dan penanya adalah jarimu," jawab malaikat.
"Lalu dimana aku harus menulis sedangkan aku tidak mempunyai selembar kertas pun," tanya si mayit itu lagi.

Pencatatan Amal
Lalu malaikat Ruman itu memotong kain kafan si mayit itu dan memberikannya kepada si mayit.
"Inilah lembarannya, dan tulislah sekarang," jawab Malaikat Ruman.

Maka si mayit pun menulis apa yang pernah diperbuatnya ketika hidup di dunia.
Berbagai ibadah yang baik-baik ditulis dengan detail oleh si mayit itu.
Namun ketika giliran mencatat perbuatan yang jelek, si mayit itu berhenti.

"Hai mayit, mengapa engkau berhenti menulis kelakuan jelekmu," kata malaikat Ruman.
"Aku malu terhadap sifat jelekku," jawab si mayit.
"Hai orang yang lalai (durhaka), kenapa engkau tidak malu pada penciptamu ketika engkau melakukannya di dunia dan sekarang engkau merasa malu kepadaku?" bentak Malaikat Ruman.

Si mayit tak mampu menjawab pertanyaan itu sehingga malaikat Ruman memukul tubuhnya dengan Gada (sejenis palu besar).
Si mayit pun mengerang kesakitan di dalam kubur.
Berulang kali gada itu mendarat di tubuh si mayit, namun si mayit masih tak sanggup menulis perbuatan jeleknya di dunia.

"Angkatlah gada itu dariku wahai malaikat, sehingga aku bisa menulisnya," kata si mayit meringis kesakitan.
Lalu dengan sambil menahan sakit, si mayit menulis perbuatan maksiatnya selama di dunia.
Ketika laporannya itu selesai, Malaikat Ruman menyuruhnya duduk untuk melipat kafan itu dan membubuhkan cap.

"Wahai malaikat, dengan apa aku memberi cap, sedangkan aku tidak mempunyai cap," kata si mayit kian menderita.
"Berilah cap dengan kukumu," jawab Malaikat Ruman.

Malu Kepada Allah SWT
Maka si mayit pun memberi cap dengan kukunya.
Malaikat Ruman menerima laporan itu lalu mengalungkannya ke leher si mayit sampai hari kiamat tiba.

Sebagaimana firman ALLAH SWT,
"Dan pada setiap manusia telah Kami tetapkan anak perbuatannya (sebagaiman tetapnya kalung) pada lehernya.Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang akan dijumpainya dalam keadaan terbuka."
(QS.Al-Israa:13).

Setelah itu masuklah malaikat Munkar dan Nakir.
Apabila si mayit tersebut ahli maksiat, dia akan melihat bukunya pada hari kiamat dan diperintahkan untuk membacanya.
Dia membaca kebaikannya dan ketika sampai pada kejelekannya dia diam.
Orang tersebut malu membaca perbuatan maksiatnya di hadapan Allah SWT.

"Saya malu kepada Engkau Ya Allah," kata orang ahli maksiat itu.
Lalu Allah SWT menyindir orang tersebut kenapa orang itu tidak malu kepada-Nya ketika di dunia.
Maka menyesallah hamba itu tapi penyesalan tiada berguna.
Na'uzubillah Min Zaliik.

Kisah Abu Nawas Lolos Dari Hukuman Pancung

Lolos Dari Hukuman Pancung

Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim kentang akan tiba.
Namun tanpa alasan yang jelas prajurit kerajaan langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah Paduka Raja.
Abu Nawas tiada mampu berkutik dan kini ia mendekam di dalam penjara.

Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam, sedangkan istrinya tidak cukup kuat untuk mencangkul.
Tidak ada yang bisa dilakukan di dalam penjara kecuali mencari jalan keluar.
Sudah 2 hari ia meringkuk di dalam penjara, wajahnya terlihat murung.

Karena khawatir dengan keadaan istrinya, maka pada hari ke 3 Abu Nawas memanggil seorang pengawal.
"Bisakah aku minta tolong kepadamu?" kata Abu Nawas.
"Apa itu?" kata pengawal.
Abu nawas pun meminta pensil dan selembar kertas untuk menulis surat kepada istrinya.

"Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting, yang hanya boleh diketahui oleh istriku saja," katanya.
Pengawal itu berfikir sejenak, lalu pergi meninggalkan Abu Nawas.
Ternyata pengawal itu menghadap Raja untuk melapor.
Mendengar laporan dari pengawal, Baginda Raja berguman,
"Mungkin kali ini aku bisa mengalahkan Abu Nawas," gumannya.




Surat Rahasia Abu Nawas
Abu Nawas menulis surat yang berbunyi,
"Wahai istriku, jangan engkau sekali-kali menggali ladang kita, karena aku menyembunyikan harta karun dan senjata di situ.Dan tolonglah jangan bercerita kepada siapa pun."

Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda Raja, karena Beliau ingin tahu apa sebenarnya rahasia Abu Nawas.
Setelah membaca surat itu, Baginda Raja merasa puas dan memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali ladang Abu Nawas.

Istri Abu Nawas yang berada di rumah menjadi heran.
Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya.
Dalam surat tersebut istrinya mengatakan bahwa ladang mereka telah digali oleh pekerja istana dan istrinya bingung harus melakukan apa.

Rupanya istri Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya,
"Sekarang engkau bisa menanam kentang di ladang tanpa harus menggali, wahai istriku."

Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi karena Baginda Raja makin mengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas.
Baginda semakin merasa tertantang untuk mengalahkan Abu Nawas.
Ia pun berfikir sejenak, kemudian beliau segera memerintahkan penjaga penjara untuk membebaskan ABu Nawas.
Baginda Raja tidak ingin ada resiko yang lebih buruk.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang, tetapi ia juga merasa gundah gulana karena Abu Nawas yakin bahwa saat ini Baginda telah merencanakan sesuatu dan Abu Nawas pun segera mencari akal untuk mengantisipasi rencana Baginda.

Ahli Ramal
Pada hari itu juga Abu Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.
Sejak membuka praktik meramal, Abu Nawas sering mendapat panggilan dari orang-orang terkenal.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal, maka Baginda tanpa pikir panjang memerintahkan prajurit untuk menangkapnya, karena dianggap membahayakan.

Abu Nawas lalu digiring menuju tempat kematian.
Tukang penggal kepala pun sudah menunggu dengan pedang yang baru di asah.
Ketika algojo sudah siap megayunkan pedang, tiba-tiba Abu Nawas tertawa sehingga membuat Baginda menangguhkan pemancungan.

"Hai ABu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri menghadapi pedang algojo?" tanya Raja.
"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira," jawab Abu Nawas.
"Mengapa engkau meras gembira?" tanya Baginda kaget.
"Betul Baginda yang mulia, karena tepat 3 hari setelah kematian hamba maka Baginda akan mangkat menyusul hamba ke liang lahat.Karena hamba tidak bersalah sedikitpun," jawab Abu Nawas.

Baginda Raja bergetar mendengar kata Abu Nawas dan tentu saja hukuman pancung dibatalkan.
Itulah si Kisah Abu Nawas yang setiap ucapannya mengandung hikamh do'a hingga Sang Raja ngeri juga mendengar penuturannya.
Selamat Data Di www.irfanfr.blogspot.com Disini Ada. Request,Tips,Trick,Games,Software,Tools,Tutorial,Cheat. Jika Sudah Comment Yaaa